Headline

Bendahara Gapoktan Udik Sejahtera Tuding Ketua Gapoktan Kocok Bekem

Salah satu bantuan Gapoktan. (foto: tim)

Tulangbawang, lintasberita.id- Terkait dugaan penyimpangan dan penggelapan sejumlah bantuan pertanian baik alat ataupun benih yang dilakukan Sarbini selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Udik Sejahtera, Kampung Gunung Tapa Udik Kecamatan Gedung Meneng Kabupaten Tulangbawang, Iwansyah Bendahara Gapoktan Udik Sejahtera menuding Sarbini tidak transparan, Senin (05/11/2018).

Menurut Iwansyah, meski sebagai bendahara Gapoktan Udik Sejahtera, namun tidak pernah dilibatkan dalam melakukan usaha agribisnis pertanian, yang mana seharusnya mengedepankan prinsip kebersamaan dan kemitraan, guna mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani bagi anggota dan petani.

“Benar saya bendahara Gapoktan, tapi apapun bantuan yang diberikan Pemerintah melalui Dinas Pertanian baik itu Alsintan ataupun benih, Ketua Gapoktan Udik Sejahtera tidak pernah berkoordinasi dengan saya, apalagi soal Combat yang dibawa ke luar Kampung saya nggak dikasih tau,” keluh Iwansyah.

Seharusnya sekalu bendahara Gapoktan, apapun kegiatan dan bantuan yang diterima Gapoktan, bendahara harus mengetahui, mengingat pertanggungjawaban juga ada pada bendahara.

“Saya bendara tapi nggak tau apa-apa, nggak dilibatkan, nggak difungsikan. Maka saya harap Dinas Pertanian dapat membenahi ini, sebab pertanggungjawaban dimata hukum bila ada masalah maka saya juga akan ikut terseret, karena nama saya ada di akte notaris Gapoktan Udik Sejahtera,” ucapnya.

“Jadi selama ini meski menerima bantuan saya selalu tidak dilibatkan, tidak ada tanda tangan saya sekalipun dalam administrasi Gapoktan Udik Sejahtera. Sehingga saya curiga tanda tangan saya dipalsukan, karena yang namanya bendahara, apapun barang keluar masuk harus ada tanda tangan bendahara,” terang Iwansyah.

Di beritakan sebelum Masyarakat Kampung Gunung Tapa Udik Kecamatan Gedung Meneng, yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Udik Sejahtera, mempertanyakan sejumlah bantuan yang disalurkan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang, Minggu (4/11/2018)

Dimana bantuan tersebut berupa alat pertanian mulai dari Hendtraktor dua unit, Combat satu unit (alat panen padi), alat Tanam padi. Selain itu juga bantuan benih jagung, benih padi, benih cabai dan bantuan benih bawang merah, yang mana diduga bantuan tersebut digelapkan oleh oknum Ketua Gapoktan Udik Sejahtera.

Tentunya hal ini tidak selaras dengan nawacita Pemerintah yang terus berupaya meningkatkan produksi pangan nasional, salah satunya dengan memberikan bantuan alat produksi pertanian (Alsintan) dan bibit pertanian ke seluruh wilayah. Sayangnya, banyak Alsintan dan bibit pertanian dikucurkan tidak tepat sasaran dan disalahgunakan oknum Gapoktan.

Tujuan dikucurkannya benih atau bibit gratis atau bersubsidi untuk menyediakan benih dengan mutu yang terjamin untuk kebutuhan benih dalam rangka pelaksanaan program pembangunan tanaman pangan.

Benih bersubsidi yang dijual dan disalurkan merupakan benih unggul yang telah disertifikasi. Selain itu, membantu petani agar dapat membeli benih dengan harga terjangkau.

Menurut SN (inisial) warga Kampung setempat, dirinya menuturkan bahwa bantuan alat pertanian tersebut diperuntukan petani Gunung Tapa Udik, artinya baik penggunaan dan pengelolaan alat-alat tersebut sudah jelas peruntukannya, namun ironisnya sejak Tahun 2015 lalu baik alat pertanian dan benih pertanian, warga belum pernah dilibatkan atau menerima bantuan yang dikucuran Pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang.

“Bahkan alat pertanian jenis Combact, Hendtraktor dan alat tanam padi belum sempat dipergunakan warga, dan alat tersebut diangkut oleh Ketua Gapoktan menggunakan mobil truk dan dibawa keluar Kampung, entah dijual atau disewakan, kami warga sendiri tidak dilibatkan, selain itu oknum Ketua Gapoktan diduga pula telah menyelewengkan bantuan dari Bibit, Pupuk dan uang senilai ratusan juta rupiah,” jelasnya.

Sementara itu, dengan adanya penggelapan alat pertanian dan penyelewengan bibit pertanian oleh Sarbini selaku Ketua Gapoktan Udik Sejahtera Kampung Gunung Tapa Udik, tentunya hal ini amat disayangkan karena minimnya pengawasan dari pihak Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang.

Tujuannya program di kucurkannya bantuan alat pertanian dan bibit pertanian tentunya guna meningkatkan hasil pertanian masyarakat secara menyeluruh, bukan diperuntukan sekelompok orang, yang meraup keuntung pribadi, hal ini tentunya salah satu perbuatan melawan hukum.

Seperti halnya bibit seharusnya dibagikan ke anggota kelompok atau para petani, tapi persoalannya bibit bibit yang di kucurkan Dinas Pertanian Kabupaten Tulangbawang dialihkan ke kampung lain bahkan dijual belikan.

Disisi lain, Ketua Gapoktan Udik Sejahtera, Sarbini menampik, bahwa mengenai bantuan Alsintan semua ada pada pihaknya dan khusus Combat yang dibawa keluar Kampung ada surat pinjam pakai, hal itu karena sifatnya brigade.

“Semua alat ada semua, khusus Combat karena sifatnya brigade maka bilamana Kampung saya belum membutuhkan maka boleh dipinjamkan ke Kampung lain yang membutuhkan alat tersebut, sekarang alat itu ada suratnya dari Dinas Pertanian, alat itu sekarang ada di Batang Hari Rawapitu, dan kita pegang suratnya,” kata Sarbini.

Jadi, lanjutnya, karena untuk sekarang ini masih ada kesibukan, kedepan Kelompok Tani (Poktan) akan diundang, untuk membenani, jika aktif tolong lebih aktif, dan bilamana tidak aktif tidak siap memikul beban silahkan mundur.

“Karena selama ini saya anggap mereka (Poktan) pakum tidak tidak bergerak, apa yang saya ajak, apa yang saya dapat mereka (Poktan) ada bahasa mereka contoh cabai itu saya tawarkan karena itu harus ditanam, ternyata ada yang minta bagi untuk lahan cuma setengah hektar, kalo nggak saya tanam kan nanti masalah dengan Dinas Pertanian, ngapain kita ngotot ngomong sama Wakil Bupati kita minta sedangkan cabai itu udah nggak ada lagi untuk Kampung-kampung yang lain kita ngotot minta, setelah dapat nggak mau kita tanam,” ungkapnya.

Maka, masih kata dia, bilamana ada laporan dari masyarakat yang mengatakan demikian, mohon maaf, karena mereka belum apa-apa sudah mengeluhkan seperti demikian, padahal semuanya jelas.

“Kalo alat-alat itu saya bicarakan kepada kelompok (Poktan) mereka pasti masih banyak pertanyaan, ibaratnya dari Dinas itu, kita mau mengambilnya saja pakai biaya. Jadi kyak mesin pompa itu ada, Combat itu posisinya yang ada di Rawapitu, dan mesin yang lain karena peminatnya tidak ada maka sampai saat ini ada di rumah, saya bungkus dengan rapih,” terang dia.

“Sehingga kalo ada kawan-kawan baik dari Poktan maupun diluar ada komentar, rumah saya jelas 24 jam terbuka, kalo hentraktor ada di kelompok, karena bukan saya yang megang dan alat-alat lainnya, ada di saya dan juga ada di kelompok, alat yang ada di kelompok saya tidak berani tanggungjawab, tapi kalo barang yang ada dengan saya, saya tanggungjawab, saya sebagai Gapoktan bukan serakah mau menggelapkan atau tidak jelas, karena menurut saya jelas, dan ada beberapa kelompok syaa tawarkan alat dari Dinas mereka menolak,” ucapnya.

Alasan mereka menolak, karena belum mau menggunakannya, jadi barang-barangnya ada di Ketua Gapoktan Udik Sejahtera, tapi bilamana suatu saat masyarakat ingin menggunakannya dapat langsung dipakai atau dipinjam.

“Karena kelompok ini ada 15, jadi kalo bantuannya cuma 1, khawatirnya kalo dikasihkan ke salah satu kelompok khawatirnya ribut karena iri-irian, jadi kalo kita bicara kesitu sudah sangat jauh, mengenai bantuan bibit cabai dan bawang kita tidak dapat, kalo cabai itu sekarang sudah ditanam, kelompok saya yang menanam, bukannya benih bantuan itu dibuang-buang, untuk benih bawang merah itu saya tidak dapat, saya memang tidak mengajukan, karena memang tidak ada yang mau menanam, saya cuma dapat cabai saja,” paparnya.(tim/red)

Berita Terkini

Add Comment

Click here to post a comment

59 − 51 =