Headline

Cicil UP 1 Milyar, Kejaksaan Telusuri 16 Aset Alay

Ekspos pengembalian UP oleh pihak Alay ke Kejati Lampung (ft.eko)

Bandar Lampung, LB-‎ Terpidana 18 tahun kasus Korupsi  APBD Kabuten Lampung Timur tahun 2008 – 2009, Sugiarto Wiharjo Alias Alay melalui keluarga dan  Tim Kuasa Hukumnya mengembalikan uang pengganti sejumlah Rp. 1 Miliyar ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, Jum’at (22/3/2019).

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung, bahwa pengembalian kerugian Negara ini merupakan kesdaran diri dari terpidana Alay, besarannya yakni Rp. 1 Milyar sebagai uang penggati yang telah di putuskan oleh Mahkamah Agung (MA) Nomor 510/K/PID.SUS/2014 tanggal 21 Mei 2014 sebesar Rp. 106,8  Milyar.

“‎Ini sebagai langkah awal, apakah pihak dari Alay mempunyai sikap kooperatif, untuk menyelesaikan kewajibannya kepada Negara berdasarkan keputusan pengadilan,” ungkapnya.

Kajari menambahkan, bahwa pihaknya tidak akan diam dan  puas ‎dengan hal tersebut, tetap dengan tim yang ada di Kejati, Kejari maupun di MA, kita akan melacak aset-asat dari Alay.

Sementra itu, Asisten Pidana Khusus (Adpidsus) Kejati Lampung Andi Suharlis mengatakan, bahwa  aset  Alay yang sudah di men-trace‎ ada sekitar 16 titik, berupa tanah dan bangunan.

“Jadi sekian lama dalam pelariannya, Alay melakukan penitipan kepada beberapa pihak, jadi kita harus pastikan dulu, kita klarifikasi kan apakah sudah teransaksikan atau di alihkan kepada para pihak,” ungkapnya.

Menurutnya, aset yang di miliki Alay tersebut berada di Bandar Lampung, Pesawaran, Tulangbawang dan Lampung Selatan, dan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihaak terkait, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), pihak Bank dan pihak-pihak yang menguasai.

Sujarwo, SH. MH., kuasa hukum dari terdakwa Alay mengatakan, pasaka kliennya tertangkap dan saat ini tengah menjalini hukuman di Lapas Kelas 1 Bandar Lampung, Ia (Alay) telah membuat surat pernyataan yang di tunjukan untuk Kejaksaan akan kooperatif dan berusaha mengembalikan kerugian negara sebesar Rp. 106,8 Milyar tersebut.

“Beliau (Alay) masih mempunyai aset-aset, atau piutang di luar dia sendiri, dimana aset tersebut msih berupa benda tidak bergerak, dia juga berharap itu bisa di tindak lanjuti dan terjual bisa menutupi kerugian Negara,” kata Sujarwo.

Sujarwo menambahkan, bahwa aset yang sudah ter men-trace tersebut berdasarkan perhitungan kasat mata nilainya sudah mencukupi untuk pengembalian kerugian Negara. ‎ (eko)‎

Add Comment

Click here to post a comment

80 − = 71