oleh

Diduga Oknum Pemilik Pangkalan LPG 3Kg Di Lampung Tengah Jual Langsung Ke Warung – Warung

Lintasberita.id – Pendistribusian liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi 3 Kg nampaknya masih selalu menjadi problem di masyarakat. Pasalnya, demi mengumpulkan keuntungan pribadi yang besar, para oknum sengaja melanggar prosedur dan regulasi yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

Berdasarkan temuan di lapangan, bahwa sebuah mobil truk milik PT RP mengangkut LPG 3 Kg terlihat menurunkan tabung gas yang sudah di isi di salah satu pangkalan yang ada di Goras Jaya, Kecamatan Bekri, Lampung Tengah. Sekilas terlihat tidak ada yang aneh dan mencurigakan.

Oknum pemilik pangkalan Dedi, mengambil jatah gas LPG 3 Kg pangkalannya saat mobil agen melakukan bongkar muat di pangkalan lain. Hal itu dilakukan untuk menghindari warga yang hendak membeli gas di pangkalan miliknya.

Usai mendapat gas LPG 3 Kg jatah pangkalannya, diduga Dedi langsung beranjak dengan mengendarai mobil Pick up hitam langsung mengecerkan gas miliknya ke warung – warung.

Pendistribusian dengan cara seperti itu tentu akan menjadikan masah baru, lantaran melakukan penjualan dengan mengecer dalam jumlah besar.

Harga jual LPG subsidi 3 Kg di pengecer tidak dapat pantau oleh Pertamina. Selain itu, penjualan berlebihan ke pengecer dapat memicu terjadinya kelangkaan LPG. Hingga masyarakat tidak dapat membeli di pangkalan karena tidak ada gas, sedangkan di pengecer harganya dipatok tinggi.

“Jadi biasanya dia (Dedi, red) gak mau bongkar gas tabung 3 Kg di pangkalan miliknya, jadi Dedi ini ngambil jatah gas pangkalan di tempat lain,” kata warga sekitar yang enggan di sebut namanya. Sabtu (31/7/2021).

“Mobil itu bongkar muat di pangkalan BUMK nanti Dedi ngambil disana, terus bongkar muat lagi di pangkalan Anisa dia ngambil lagi. Mobil agen gak pernah mau bongkarnya di pangkalan Dedi,” kata sumber.

Menurutnya, Dedi diduga sengaja tidak mau menurunkan gas tabung 3 Kg ke pangkalan, agar bisa langsung membawa ke wilayah lain untuk di ecerkan dan bisa menaikan harga, tidak menggunakan harga eceran tertinggi (HET) pangkalan yang sudah di tetapkan.

“Nanti sama si Dedi ini di bawa ke Karang Tani, jadi bisa langsung naikan harga. Dedi disini pegang dua Pangkalan. Pangkalan milik Dedi sengaja ditutup dan tidak pernah memasang papan nama untuk menghindari konsumen membeli di pangkalannya. Kan untungnya kecil kalau beli di pangkalan,” jelasnya.

“Sering mas mainnya seperti ini, ini sudah lama berlangsung. bos agennya namanya Pak Yudi itu kantornya di Way Halim,” timpalnya.

Hingga berita ini di turunkan, Dedi belum dapat di konfirmasi dan pimpinan PT RP belum dapat di temui untuk di mintai klarifikasi terkait permasalahan yang terjadi. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed