oleh

‘Dugaan Pelecehan’ Damar Sebut UIN-RIL Terkesan  Tak Transparan

Bandar Lampung, LB- ‎ Pihak lembaga Advokasi perempuan anti kekerasan DAMAR Sebut TPF maupun pihak kampus UIN-RIL tidak Punya sikap pembelaan terhadap korban EP, hal ini pula menurut damar secara Lembaga tidak akan menguntungkan Kampus UIN.

Karena hanya akibat ulah oknum-oknum tak netral Kampus di Cap pihak lain tidak melindungi terduga pelaku pelecehan seksual oknum dosen UIN-RIL Saiful Hamali.

“Ulah Oknum. Kampus menjadi pertaruhan mereka, hal ini justru akan membuat nama baik UIN-RIL akan dicap pihak lain terkesan melindungi pelaku, dengan sikap-sikap yang ditunjukan, kebanyakan ada intimidasi, hal ini justru akan mencoreng nama universitas akibat oknum-oknum tak netral,”ujar Advokat Damar, Meda Fatmayanti.‎
‎‎‎
Menurut DAMAR, Tim pencari fakta UIN-RIL diduga tidak imbang, karena seharusnya porsi mereka bersikap netral dan mencari ‎solusi serta pembuktian, namun kenyataanya dilapangan masih saja ada dugaan Intimidasi dari pihak kampus yang menjurus pada ‎EP dan Keluarga, dengan datangnya lima orang TIM utusan UIN (Pak Arif, Pak Bunyamin, Bu Siti Masykuroh, Bu Siti Badiah dan ‎Pak Hervi) kerumah Keluarga korban pada 08 januari 2019 Lalu.

“Tim pencari fakta tidak imbang, harusnya kan mereka adil jangan ada dugaan intimidasi terus menerus, ini kok ada lima orang ‎TIM utusan UIN mendatangi keluarga korban dan menyatakan ‘kalah jadi abu menang jadi arang’ kan tidak pantas itu seolah ‎ingin mengganggu pengungkapan kasus ini,” terang Advokat Damar, Perli Wahyudi.‎

Selain terhadap keluarga korban, Damar juga menduga ada bentuk intimidasi secara akademik terhadap korban maupun teman ‎korban yang menginginkan kasus ini terungkap secara terang benderang, beberapa diantara dugaan itu ialah nilai saksi atau ‎teman pelaku yang ikut demo anjlok, kemudian dugaan lainya tidak ada dosen pembimbing akademik terhadap pelaku EP maupun ‎kejelasan penggantinya padahal korban harus dijamin keberlansungan pendidikanya.

“Jadi ada bentuk-bentuk kecil rentetan, mulai dari dugaan intimidasi pada keluarga korban maupun dugaan intimidasi secara ‎akademik, Baik itu teman mahasiswa yang ikut demo yang juga dapat nilai jelek maupun terhadap EP sendiri yang belum ‎mendapatkan dosen pembimbing akademik, karena PA sebelumnya mengundurkan diri secara tiba-tiba, lalu korban ‘dipaksa’ untuk ‎buat surat permohonan kembali. Padahal itu hak mahasiswa, nah sampai saat ini klien kita gak punya dosen pembimbing,”terangnya.‎

Sejauh ini, Masih kata para advokat, DAMAR konsisten mengawal pendampingan hukum korban dan DAMAR juga telah memberikan ‎konseling untuk korban, lalu untuk para saksi DAMAR juga sudah meminta LPSK dan Kemenag turun dalam kasus ini, tentunya ‎perlindungan para saksi juga diperlukan agar tidak ada intervensi.

“Kita sudah berikan konseling pada korban, mitigasinya korban dan saksi, karena untuk korban masih ada rasa tertekan karena
adanya intimidasi secara tidak langsung, lalu untuk saksi kita juga sudah minta bantuan LPSK agar tak ada dugaan perbuatan
intimidasi lain yang menimpa mereka, kemenag juga sudah turun dalam porsinya untuk kasus ini,”Lanjut Meda.

DAMAR juga menyebut pihak Pimpinan UIN-RIL tidak transparan, bahkan menduga tidak memiliki itikad baik dan terkesan ‎melindungi oknum dosen yang konon katanya dua tahun lagi pensiun itu, adapun pasalnya ialah surat resmi DAMAR yang sudah ‎lebih dari dua minggu dikirim tak dibalas.‎

“Kita sudah surati UIN tapi sudah dua minggu tak kunjung dibalas, ini kan tidak transparan, padahal kami hanya minta tiga
hal dalam surat itu yakni, keberatan terhadap TPF, minta Menon-aktifkan dosen Saiful hamali dan memberikan perlindungan pada ‎korban EP dan saksi-saksi peristiwa itu,” tegasnya.

Disinggung soal penanganan proses hukum, pihak DAMAR juga sudah menyabut telah menyerahkan pada pihak kepolisisan dalam hal ‎ini Polda Lampung, pasca adanya laporan resmi pihak korban ke Polda Lampung dengan Nomor: STTPL/ 1473/XII/ 2018/Lpg/SPKT Polda ‎Lampung 2019.‎

“Ranah hukumnya sudah sampai gelar perkara, diserahkan dan dipercayakan pada pihak kepolisian. Kami percaya pada Polda
Lampung mereka profesional, kita juga minta kampus untuk memberi dukungan untuk korban dengan memberikan jaminan
akademiknya, karena korban sudah susah payah lapor patutnya di apresiasi karena tidak semua korban dugaan pelecehan seksual ‎dapat melapor,” tukasnya.

Diketahui sebelumnya, Korban EP diduga mendapat pelecehan seksual dari oknum dosen sosiologi agama, Saiful Hamali. dugaan ‎pelecehan seksual itu didapatinya pada saat korban menyerahkan tugas diruang dosen studi agama tanggal 21 desember 2018 ‎lalu.

Saat itu korban mengaku mendapat sentuhan fisik maupun non fisik, colekan atau sentuhan dibagian tubuh dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban, terduga juga menggunakan ucapan bernuansa seksual, alhasil korban tak nyaman karena ‎merasa dirandahkan lalu korban melaporkan pada Reknata Polda Lampung. (rls)‎

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed