Kriminal

Keluarga Minta Polisi Usut Kasus Meninggalnya Yogi Andhika

Bandar Lampung, Lintasberita- Kematian adalah takdir bagi setiap manusia, dan takdirpun tidak luput dari campur tangan Tuhan sebagai penentunya. Kata-kata khiasan ini yang mungkin pantas disampaikan buat almarhum Yogi Andhika.

Namun dibalik kematian Yogi Andhika yang bekerja sebagai sopir pribadi Bupati Lampung Utara ini, patut dipertanyakan. Sebab kematiannya meninggalkan sejumlah misteri, tidak wajar, karena diduga dianiaya.

Tidak terima dengan kasus ini, lantas pihak keluarga almarhum Yogi Andhika melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Lampung Utara.

Laporan tentang dugaan tindak pidana pengeroyokan dan penganiayaan hingga menelan korban jiwa tertuang dalam laporan polisi: LP/237/III/Polda Lampung/Spk T Res Lam Ut, tanggal 20 Maret 2018.
Laporan tersebut langsung disampaikan Fitria Hartati (56) orang tua Yogi Andhika, warga Jalan Bunga Uli 4 No.24 Rt 008, Kelurahan Perum Way Kandis, KecamatanTanjung Senang, Bandar Lampung.

Pada penjelasannya, kuasa hukum orang tua korban, Riza Hamim menyebutkan, bahwa semua diserahkan kepada hukum yang berlaku. “Saya mendampingi Fitria Hartati melaporkan kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnyaa korban Yogi Andhika,” kata Riza Hamim.

Sementara itu, dari keterangan Fitria Hartati, kronologis singkat peristiwa tragis yang menimpa putranya, berawal sekitar 7 bulan lalu. “Ketika itu, anak saya Yogi Andhika pulang ke rumah dengan sekujur tubuh penuh luka dan memar. Kepala bagian belakangnya pecah, di punggungnya penuh dengan luka semacam sundutan api rokok. Bahkan ketika itu, anak saya sempat mengeluarkan muntah dengan darah yang mengental,” tutur dia.

Dia membeberkan, dengan perasaan yang hancur lebur dan penuh tanda tanya, dirinya bersama dengan keluarga mengantarkan almarhum Yogi Andhika ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek guna memberikan pertolongan pada anaknya tersebut. “Almarhum Yogi hanya mampu dirawat selama 5 hari. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maka diputuskan untuk merawat almarhum di rumah. Meskipun pihak rumah sakit melarang karena kondisi almarhum Yogi saat itu sangat parah dan masih membutuhkan perawatan intensif,” ujar ibunda almarhum ini sambil meneteskan air mata di kedua pipinya.

Di lain pihak, menurut keterangan keluarga almarhum, saat almarhum Yogi Andhika dirawat di rumah, mengaku sempat mengalami penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum.

“Pada Rabu tanggal 26 April 2017,Yogi Andhika dituduh mengambil sejumlah uang, namun dikarenakan korban merasa tidak melakukan perbuatan tersebut dan korban takut karena diancam kemudian korban mengamankan diri,” ujar keluarga korban, seperti yang dituturkan almarhum.

Dari kejadian itu, korban dipancing untuk datang ke rumah AR di Bandar Lampung karena dijanjikan pekerjaan. Setelah korban datang menemui AR, kemudian korban dijemput oleh 4 orang laki laki.
Dua diantaranya, yakni And dan Bow, selama dalam perjalanan korban dianiaya bahkan sesampai di Lampung Utara korban masih mengalami penganiayaan.

Setelah mengalami luka berat kemudian korban dibawa ke Bandar Lampung dan sesampainya di Jalan By Pass korban dibuang di pinggir jalan, setelah itu korban ditemukan warga dan dibawa ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek. Kemudian pada tanggal 15 Juli 2017 korban meninggal dunia di rumah sakit.

Yang lebih mengecewakan, sebelum Yogi Andhika menghembuskan nafas, pihak keluarga sangat terkejut bahwa almarhum dijadikan sayembara dan diberikan hadiah Rp5 juta bagi yang menemukan.
Pada kasus ini, lantas keluargapun berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas pelaku dan dalang dibalik terbunuhnya Yogi Andhika.

Selain itu, keluarga besar juga berniat mengirimkan surat kepada Mabes Polri dan Presiden meminta pengusutan kasus ini serta dibuka lebar kepada masyarakat.

Di lain pihak, Polres Lampung Utara (Lampura) saat ini mulai melakukan penyelidikan untuk mengungkap kematian Yogi Andika (32). “Ya, kami sudah mendapatkan laporan dari Fitri ibu korban. Dia didampingi kuasa hukumnya, selanjutnya atas laporan tersebut kami mulai melakukan penyelidikan,” ujar Kapolres Lampung Utara AKBP Eka Mulyana, kepada sejumlah wartawan, Rabu (21/3) lalu.

Eka menyampaikan, dalam perkara ini, pihaknya juga akan membentuk tim guna melakukan penyelidikan secara mendalam. Mengingat peristiwa yang dilaporkan itu terjadi sekitar 7 bulan lalu.

“Kami tidak mau gegabah untuk menentukan siapa pelaku maupun dalangnya, karena kejadian ini sudah lumayan lama, sedangkan baru dilaporkan kemarin,” kata dia.

Dalam penyelidikan kasus ini, lanjutnya, tentu memakan waktu lama. Sebab, pihaknya sudah menerima laporan peristiwa pembunuhan, tetapi tidak memiliki saksi apalagi tersangkanya belum ada.

“Untuk itu, kami akan mendalami dulu sejauh mana kebenaran peristiwa tersebut,” papar dia. (red)

Berita Terkini

Add Comment

Click here to post a comment

43 + = 47