oleh

Kerusakan Hutan Register 38 Gunung Balak Seolah Jadi Tontonan

Lintasberita.id- Sungguh ironis, pengerusakan hutan register 38 Gunung Balak yang dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab nampaknya masih terus dilakukan. Ditambah lagi, pihak terkait maupun Pemerintah Daerah setempat seolah hanya menututup mata dan telinganya.

Padahal, ada empat Kecamatan sekitar Gunung Balak pernah memgajukan penuntutan ke Pemerintah, agar lahan seluas 5000 hektar yang di rambah sekelompok masyarakat pada kawasan tersebut untuk dikembalikan sebagai lahan penghijauan kawasan hutan. Namun yang terjadi saat ini, hutan tambah rusak dan penebangan tidak henti- hentinya.

Saat media ini turun kelokasi, salah seorang penebang kayu yang mengaku bernama Asmuri mengatakan, bahwa dirinya sudah berkordinasi dengan aparatur setempat seperti Lurah (Kades), Kapolsek, Pokhut untuk menebang kayu di kawasan yang masuk di hutan register 38 Gunung Balak.

“Saya sudah telpon Pak Lurah Bojong ,Pak Kapolsek, Polhut dan Pak Pendek, jawab mereka “Ya, yang penting rapih” dan kayunya saya jual,” kata Asmuri, (18/8/2020).

Diberitakan sebelumnya, bahwa kerusakan hutan register 38 Gunung Balak sudah terjadi sejak 1998 akibat alih fungsi lahan yang dilakukan perambah. Pohon-pohon sudah tergantikan dengan tanaman singkong, bahkan bangunan permanen pun sudah banyak ditemui di lokasi itu.

Tentu tugas pengawasan dari pihak terkait yang patut dipertanyakan, hingga timbul dugaan adanya pembiaran dan justru menjadi lahan pendapatan bagi oknum – oknum yang tidak bertanggug jawab.

Seperti yang terjadi di desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur. Penebangan kayu karet di atas tanah register 38 yang tek henti- hentinya, hingga merusak hutan.

Ngateman, warga Bandar Agung ini tak bisa mengelak lagi jika dirinya merupakan orang yang telah melakukan penebangan pohon karet yang ada di hutan tersebut. Saat dikonfirmasi media ini, Ngateman mengklain dirinya hanya buruh.

“Saya memang menebang di tanah registere 38, tapi saya juga buruh, untuk yang sekarang ini saya bekerja nebang karet sama pak Catur orang dari Sidoarjo dan saya di upah dua juta rupiah per hektarnya. Untuk yang sekarang saya disuruh nebang dua hektar, jadi saya dikasih uang empat juta rupiah, itu juga belum di kasih semuanya,” kata Ngateman saat di temui dikediamannya, Sabtu (18/7).

Tidak hanya sampai disitu saja, Ngateman juga membeberkan adanya oknum- oknum yang sengaja datang ke lokasi tempatnya bekerja dan berakhir dengan memberikan sejumlah uang.

“Saya juga ngasih wartawan yang masuk ke lokasi penebangan, bukan cuman wartawan saja, Bhabinkamtibmas juga sering minta jatah sama saya, ya saya kasih 200 ribu. Begitu juga Polhut, setiap datang saya kasih 200 ribu,” bebernya. (Muntiri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed