oleh

Klien Dituntut 20 Tahun, Nurul: Tidak Berdasarkan Fakta Sidang

Terdakwa Tarmiadi (42) usai menjalani sidang dengan agenda mendengar tuntutan Jaksa Penuntut.

lintasberita.id- Sidang pembunuhan terhadap pacar dari mantan istri dengan terdakwa Tarmiadi (42) warga Jalan Pagar Alam, Bandar Lampung kembali digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjungkarang, Selasa (24/9/2019).

Dalam persidangan, terdakwa Tarmiadi dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Edman Putra Nuzula dengan pidana penjara selama 20 tahun. Jaksa penuntut menganggap bahwa perbuatan terdakwa telah melanggar pasal 340 KUHP yakni pembunuhan berencana.

Atas tuntutan Jaksa itu, Kuasa Hukum dari terdakwa, Nurul Hidayah SH. MH., menyatakan diri sangat tidak percaya jika Jaksa Penuntut menuntut kliennya dengan pasal 340 KUHP pembunuhan berencana.

“Sangat kaget sekali dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, karena itu tidak berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, baik itu dari keterangan para saksi maupun keterangan terdakwa,” ungkap Nurul.

Atas tuntutan tersebut, pihaknya akan mengajukan pembelaan (Pledoi) dalam sidang selanjutnya. Nurul menegaskan pihaknya tidak lah sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum yang menerapkan Pasal 340 KUHP.

“Seperti kita ketahui bersama, bahwa keterangan dari saksi- saksi dan terdakwa dimuka persidangan, tidak ada perbuatan sebelumnya atau pun percekcokan sebelumnya antara korban dan terdakwa. Jadi percekcokan terjadi pada saat itu, cekcok mulut, karna cemburu berlebihan maka terjadi penganiayaan,” kata Nurul.

“Saat itu korban tidaklah langsung meninggal dunia, melainkan ketika sudah berada di Rumah Sakit,” pungkas Nurul.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penunutut Umum menerangkan, bahwa perbuatan itu terjadi pada Kamis tanggal 18 April 2019. Saat itu terdakwa bersama istrinya sedang dalam proses perceraian. Kemudian terdakwa menghampiri istrinya dengan tujuan untuk mengambil handphone miliknya yang sedang dipinjam oleh salah satu anaknya, Eti Suryati.

Saat datang terdakwa bertemu dengan bibi dari istrinya dan anaknya. Kemudian mereka berbincang di ruang tamu sambil menunggu istrinya keluar.

Tidak lama kemudian istrinya keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka yang sedang berbincang-bincang. Tidak lama itu, mereka membahas soal nafkah dan istrinya mengatakan kepada terdakwa bahwa tidak usah mengikut campuri urusannya lagi karena selama ini terdakwa tidak pernah memberikan nafkah kepada anak dan istrinya.

Saat membahas soal nafkah kemudian keduanya terjadi pertengkaran. Tidak lama itu, terdakwa pulang ke rumahnya. Tidak lama itu kemudian terdakwa kembali lagi sambil membawa pisau merek garpu sepanjang 20 centimeter. Terdakwa saat itu bertemu kekasih dari istrinya, NN yang baru sampai ke rumah mantan istrinya.

Kemudian terdakwa sempat menanyakan kepada NN apakah ia benar-benar menyukainya. Jika memang menyukai, terdakwa meminta kepada NN agar menikahinya dan jangan menyakitinya. Saat mengatakan jangan menyakiti NN, terdakwa sempat mengancam akan membunuhnya. Bahkan terdakwa mengatakan apakah ingin dibunuh sekarang.

Tidak lama kemudian, terdakwa yang sudah emosi terpaksa menusukkan pisau yang ia bawa dari rumahnya ke bagian dada NN. Pisau yang masih tertancap di bagian dadanya kemudian terdakwa meninggalkan begitu saja.

Istrinya sempat berteriak minta tolong dan membawanya ke rumah sakit. Namun nyawa kekasih dari istri terdakwa tidak bisa diselamatkan lagi. (Eko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed