oleh

LSM Basmi Tuding Sejumlah Pihak Terlibat Masalah Proyek SPAM PUPR Tubaba

Lintasberita.id- Terkuaknya dugaan permasalahan dipekerjaan pembangunan sumur dalam terlindungi pada Program Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) tahun 2021 milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) yang berada di Tiyuh (Desa) Agung Jaya Kecamatan Way Kenanga yang dikerjakan CV. Lembak Indah dengan nomor kontrak :600/09/ KONTRAK/PU/TUBABA /III/2021 dan di Tiyuh Marcu Buana Kecamatan Way Kenanga yang dikerjakan CV.Tiara senilai ratusan juta Rupiah semakin melebar.

Sejumlah pihak menuding permasalahan tersebut terjadi karena selain pihak rekanan dari Dinas PUPR yang diduga mengerjakan proyek asal -asalan, dan sisi lain akibat minimnya pengawasan dari konsultan pengawas pada kegiatan pengelolaan dan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) milik Dinas PUPR Tubaba tersebut. Padahal pada tahun 2021 ini Dinas PUPR Tubaba menganggarkan sekitar Rp 200 juta lebih untuk biaya konsultan pengawasan kegiatan SPAM tersebut.

“Dengan anggaran segitu besarnya seharusnya konsultan pengawasan bisa bertanggung jawab dan mengetahui jika ada permasalahan pada proses pengerjaan sumur dalam terlindungi pada program SPAM di Tiyuh Agung Jaya dan Marcu buana dikecamatan Way kenanga tersebut, karena anggaran untuk membiayai konsultan pengawas cukup besar sekitar 200 juta rupiah lebih,” tegas Wardi.S ketua DPC LSM Basmi Kabupaten Tubaba.

Pihaknya menambahkan, tentunya dengan anggaran yang cukup besar untuk konsultan pengawas dan ditemukannya sejumlah permasalahan yang jelas -jelas nyata dari awal pekrjaan pemasangan pipa tersebut pastinya menimbulkan pertanyaan besar dikalangan masyarakat terkait kinerja konsultan pengawasan pada kegiatan pembangunan sumur dalam terlindungi pada program SPAM tersebut,

“Pasti kita bertanya- tanya apakah konsultan pengawasan dari Dinas PUPR itu benar adanya sesuai anggaran yang digelontorkan atau memang konsultan pengawasan tersebut ada permainan juga dengan rekanan yang mengerjakan proyek, soalnya jika konsultan pengawasan dari PUPR itu tidak tahu dengan kejadian tersebut tentunya sangat aneh, mengingat penjelasan para pekerja dipekerjaan tersebut sejak dari awal memang pemasangan pipa itu sudah bermasalah, selain itu jika Konsultan pengawas sudah tahu mengapa masih dibiarkan pekerjaan tersebut dilanjutkan dengan sejumlah permasalahan, soalnya mengingat ucapan Nurul selaku PPTK pada pekerjaan tersebut jika pemasangan pipa seperti keterangan pekerja proyek yang dibakar dulu saat penyambungan, jelas itu salah dan tidak sesuai petunjuk tehknis (Juknis) yang sudah ditetapkan,” tegasnya.

Sementara waktu lalu Anton, yang mengaku sebagai pengawas pekerjaan dilapangan pada sejumlah pekerjaan SPAM tersebut justru mengakui bahwa memang ada sejumlah masalah pada pemasangan pipa pada proses pembangunan sumur dalam terlindungi tersebut.

“Ya memang benar kata tukang, pipa itu dibakar dulu ujungnya sebelum disambungkan, soalnya pipa yang kita beli itu ukurannya besar dari sambungan (T) yang ada, jadi jika dipasang langsung tanpa dibakar tidak bisa, makanya ujung pipa itu kita bakar agar bisa masuk disambunganya,”bkata Anton saat dijumpai awak media.

Meskipun benar demikian, justru Anton sendiri malah seolah bertindak arogan dan mengaku sudah memarahi sejumlah tukang yang membeberkan permasalahan tersebut ke media bahwa ada sejumlah permasalahan pada proses pembangunan tersebut.

“Akibat kejadian ini tukang-tukang itu sudah saya marahi semua yang memberikan keterangan ke media, maksut saya ngapain mereka (pekerja) ngomong kayak gitu yang Lem kurang lah sambungan pipa bermasalah lah. ini videonya waktu saya marahi tukang-tukang itu,” ujar Anton sembari menunjukan video saat mengintimidasi para pekerja.

Ditempat terpisah, Nurul selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Bidang Cipta Karya pada Dinas PUPR Kabupaten Tubaba saat dijumpai dirung kerjanya menegaskan bahwa dengan kejadian itu pihaknya sudah melayangkan surat teguran kepada rekanan sebagai perpanjangan tangan Dinas PUPR yang mengerjakan proyek pembangunan sumur dalam terlindungi pada program SPAM yang diduga bermasalah tersebut.

“Kami sudah menurunkan konsultan dan sudah memberikan teguran kepada rekanan, jika pekerjaan itu dilanjutkan maka tidak akan kami terima dan harus dibongkar,” tegas Nurul saat dijumpai diruang kerjanya. Senin (16/08).

Dirinya juga mengingatkan kepada rekanan Dinas PUPR Tubaba untuk tidak bermain-main dan mengambil untung terlalu besar pada saat pengerjaan proyek, karena jika proyek tersebut dibongkar ulang justru akan merugikan pihak perusahaan sebagai rekanan itu sendiri.

“Ngapain lah mereka itu mengambil resiko terlalu besar bermain-main begitu, padahal jika material itu diganti paling selisih berapa sih? Nantinya jika perkerjaan itu tidak diterima dan dibongkar ulang justru mereka rugi sendiri. Yang jelas itu sudah salah jika pemasangan sambungan pipanya harus dibakar-bakar, karena di petunjuk teknisnya (juknis) tidak seperti itu,” jelasnya. (Khoiri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed