oleh

Menang Pidana, PT. Waterrindeks Tirta Lestari Rencana Gugat Perdata Yuliana

lintasberita.id- Kasus hukum penggelapan uang perusahaan PT Waterindek Tirta Lestari nampaknya akan terus berjalan panjang, meski pun dalam persidangan, terdakwa Yuliana (33) warga Perum Villa Bukit Tirtayasa Blok E4 Nomor 17, LK II Kelurahan Nusantara, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung sudah divonis dua tahun empat bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjungkarang, Kamis (24/10/2019).

Kuasa Hukum Azwir Ade Putra, S.H., didampingi Kepala Humas PT. Waterindeks Tirta Lestari, Suradi mengatakan, bahwa pihaknya menghargai vonis yang di jatuhkan kepada terdakwa Yuliana.

“Kami menghormati putusan majelis hakim, namum semua barang- barang (dua unit mobil, unit motor, dan barang elektronik,-red) semua di kembalikan kepada suaminya dan terdakwa. Mingkin kita akan lakukan gugatan Perdata, karena perusahaan sangat dirugikan,” kata Azwir.

Dalam persidangan oleh Majelis Hakim yang diketuai Pastra Joseph Ziraluo menyatakan, bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

“Oleh karena itu, Majelis Hakim menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa Yuliana Binti Toton Hasan Basri dengan pidana penjara selama dua tahun empat bulan, dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” kata Pastra.

Putusan Hakim tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) M. Rama Erfan yang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan.

Dalam surat tuntutan Jaksa Penuntut, bahwa terdakwa merupakan karyawan diperusahaan PT Waterindek Tirta Lestari (Air minum Grand) yang berada dijalan Tembesu I No. 01 Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung menjabat sebagai Staf HRD sejak bulan mei Tahun 2012.

Tugas dan tanggungjawab terdakwa yakni menghitung dan membayar gaji bulanan karyawan yang berada dipabrik jabung Lampung Timur. Terdakwa memanipulasi data karyawan perusahaan yang bekerja sebagai kenek yang statusnya sudah keluar atau risigen dari perusahaan kurang lebih 13 orang, namun tetap dimasukkan kedalam daftar gaji kenek seolah-olah masih bekerja diperusahaan. Sehingga gaji kenek per-orangnya dibayar sebesar Rp.900.000, setiap bulan, dengan total sebesar Rp.11.700.000 yang telah perusahaan keluarkan diambil oleh terdakwa.

Selain itu, pada bulan Januari tahun 2017 terdakwa juga melakukan mark up uang lembur karyawan perusahaan yang berada di Jabung Lapung Timur, dengan cara terdakwa menerima data absen finger print bulanan dari karyawan pabrik dalam bentuk flash disk, kemudian data tersebut oleh terdakwa langsung dicopy ke dalam sistem attendence, lalu diubah ke format excel dan dicetak.

Setelah dicetak kemudian terdakwa menghitung jumlah jam lembur karyawan dan langsung terdakwa input kedalam System Payrol gaji yang real. Dan disaat itulah dengan memilih secara acak nama- nama karyawan, terdakwa langsung merubah atau mark up jam lembur karyawan seolah- olah telah lembur selama 20 sampai dengan 90 jam. Setelah laporan gaji karyawan dirubah, selanjutnya dimasukkan kedalam nota kasbon yang nantinya akan terdakwa diserahkan kekasir untuk dibayarkan.

Selanjutnya terdakwa menantangani kolom pembukuan dan kolom penerima dan terdakwa juga meminta tandatangan kepada manager oprasional dikolom direksi, setelah semua kolom pengesahan ditandatangani barulah laporan jumlah gaji karyawan yang harus dibayar oleh perusahaaan dalam bentuk kasbon terdakwa serahkan kepada kasir, selanjutnya kasir menyerahkan uang gaji karyawan kepada terdakwa sesuai dengan laporan dalam kasbon.

Setelah uang diterima, kemudian oleh terdakwa uang lembur yang telah terdakwa mark up di pisahkan, sedangkan uang real gaji karyawan sesuai lembur sebagaimana finger print yang terdakwa terima dari gudang Jabung, terdakwa masukkan kedalam amplop gaji masing-masing karyawan, kemudian amplop tersebut terdakwa masukkan kedalam kardus kecil lalu dilakban dan kembali terdakwa serahkan kekasir untuk selanjutnya dibawa ke Jabung Lampung Timur dan diserahakan kepada bagian HRD jabung.

Perbuatan tersebut terdakwa lakukan berulang-ulang dalam setiap bulan dari bulan Januari 2017 hingga tahun 2019, sehingga total mark up uang lebur gaji karyawan perusahaan Jabung yang telah diambil oleh terdakwa berdasarkan bukti hasil audit perusahaan, yang telah disita dalam perkara ini sebesar Rp1,173.908.385. (Eko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed