oleh

Oknum Pejabat Pemkab Diduga Beckup Developer Perum Permata Asri

Lintasberita.id- Pembongkaran gardu poskamling yang dianggap merupakan fasilitas umum (fasum) Perumahan, oleh warga RT 05 Perum Permata Asri, Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung masih menyisahkan tanda tanya besar, lantaran adanya oknum yang diduga menjadi backing Pengembang (Developer).

Berdasarkan Informasi yang di dapat, bahwa oknum tersebut yakni Ariswandi, Selain itu informasi yang di terima Ariswandi juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga (Kadispora) Kabupaten Lampung Selatan.

Kepala Desa (Kades) Karang Anyar Sumanto mengatakan, saat terjadinya pembongkaran dirinya hanya bisa menengahi kedua belah pihak saja, dan sudah meminta kepada PT. Pualam Tunggal Sakti untuk di tunda pembongkaran.

“Disitu juga ada tentara dan masyarakat, saya mohon kepada PT. Pualam Tunggal Sakti kan ada itu orangnya disitu, saya lagi menyampaikan mohon di tunda pembongkaran, datang-datang pak Aris “bongkar saja, bongkar saja,” saya gak bisa ngomong “ini perintah Bupati” kata pak Aris kan, masyarakat semua dengar itu,” kata Sumanto saat di konfirmasi via telponnya, Rabu (1/4/2020).

Terkait sertifikat milik warga yang terdapat gambar fasum dan di ragukan keabsahannya, Sumanto mengaku dirinya tidak terlalu memahami hal itu, dirinya hanya berada di tengah- tengah saja dan tidak juga memihak perusahaan. Namun dirinya juga tidak suka dengan cara dari pihak ketiga yang seolah tidak menghargainya.

“Yang jelas caranya gak senang, saya sudah mohon untuk di tunda dengan adanya pihak ketiga, oknum tadi ya main di bongkar langsung, palu diminta di pukul sendiri lalu anak buahnya turuntangan. Sakainya tentara itu saya sudah mohon sebagai Kepala Desa, ya itu lah ada oknum- oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelas Sumanto.

Setelah pembongkaran dirinya langsung berusaha mendinginkan warga, dan menyarankan kepada warga agar tidak terpancing dan meselsaikan masalah fasum tersebut melalui jalur hukum saja. Jika terjadi keributan warga juga yang akan rugi.

Sumanto juga membeberkan, bahwa usai pembongkaran dirinya juga di panggil oleh Ariswandi.

“Saya dipanggil lagi pak Aris itu, “jangan takut -takut pak kades” gini gitu, saya bilang bukannya takut tapi kita cari solusi yang terbaik. Terus saya di marahi dia, ya saya diem lah terus saya pamitan. Bagai manapun itu warga saya ya tetap saya bela pak, meski tidak kelihatan,” pungkas Sumanto.

Sementara itu, Ferdi (30) warga Rt.05 mengatakan, bahwa setelah pembongkaran, dirinya dengan warga lain bersama ketua Rt menemui Ariswandi di kediamannya.

“Setelah selsai pembongkaran, saya bersama pak Indra dan pak Rt menemui pak Aris, developer, dan aparat lainnya di kediaman pak Aris. Tujuannya ingin mengklarifikasi bahwa ini benar adalah tanah fasum,” kata dia.

Setelah sertifikat tersebut di tunjukan, lanjut Ferdi. bahwa Ariswandi dan Developer meragukan keaslian sertifikat tersebut, hingga mereka memperbanyak (fotokopy) sertifikat yang di tunjukan dan juga akan melaparkon salah satu warga berna Indra.

“Dalam perbincangan itu, pak Indra ingin dilaporkan ke Polisi, dikarenakan menurut mereka, tanda tangan 70 warga itu palsu, tidak ada yang mentanda tangani, mereka katanya mendapat informasi bahwa tanda tangan itu palsu,” kata dia.

“Yang kedua mereka juga mendapat informasi jika pak Indra mengucapkan anggota dewan itu mendapatkan jatah, padahal itu tidak ada. Kata pak Indra bilamana tanda tangan itu palsu, dan bila terbukti dia mengucapkan anggota dewan dapat jatah silahkan dilaporkan, saya tidak mundur kata pak Indra,” jelasnya. (Sug/Har)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed