oleh

Penyidik Segera Naikan Status Perkara Penipuan Sekjen Demokrat Lampung

Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung Kompol. Rosef Efendi

Lintasberita.id- Kasus penipuan yang diduga dilakukan oleh Sekretaris DPD Partai Demokrat Lampung H. Fajrun Najah Ahmad terus bergulir. Pasalnya, penyidik Polresta Bandar Lampung tengah berupaya untuk mengumpulkan bukti-bukti lainnya untuk secepatnya menaikan status perkara.

“Saat ini masih dalam penyelidikan, secepatnya (menentukan status, red), nanti setelah kita lengkapi bukti-bukti lainnya,” ungkap Kasat Resktim Polresta Bandar Lampung Kompol Rosef Efendi, Senin (1/7).

“Untuk saksi -saksi sebagian sudah kita mintai keterangan, dan sebagian juga ada yang belum, nanti kita akan jalani rangkainya dan juga nanti kita akan lakukan gelar perkara,” timpalnya.

Diketahui, Fajrun Najah Ahmad dilaporkan ke penyidik Polresta Bandar Lampung terkait kasus dugaan pidana penipuan sebesar Rp2,750 miliar oleh seorang pengusaha bernama Namuri Yasir, dengan nomor laporan polisi LP/B/4979/XII/2018/LPG Resta Balam, tanggal 17 Desember 2018.

Namuri menceritakan kepada media, bahwa dirinya ditelepon Fajrun pada Maret 2017 dan meminta Namuri datang ke kantor Partai Demokrat Lampung karena ada sesuatu yang urgent (penting) yang ingin dibicarakan.
Namuri datang ke kantor DPD Partai Demokrat Lampung.

Kemudian pada pertemuan itu, tutur Namuri, Fajrun meminta dicarikan uang sebesar Rp3 miliar sampai Rp 4 miliar. Saat itu, menurut Namuri, Fajrun berjanji akan mengembalikan uang tersebut dalam tempo dua sampai tiga bulan. Lantas Namuri pun mencarikan uang yang diminta.

Beberapa hari kemudian, Namuri menemui kembali Fajrun di kantor Partai Demokrat Lampung. Namuri membawa uang sebesar Rp1,5 miliar. Uang itu adalah uang pribadinya dan uang keluarganya. “Ya saya bantu kawan saja niatnya,” ucapnya.

Lantaran uang yang diberikan Namuri masih dinilai Fajrun kurang, Sekjend Partai Demokrat Lampung ini pun meminta dicarikan kembali uang. Beberapa hari kemudian, Namuri kembali menyerahkan uang Rp1,250 miliar. Sehingga total uang yang Namuri serahkan sebesar Rp2,75 miliar.

Setelah dua bulan, Namuri menunggu janji Fajrun yang hendak mengembalikan uang tersebut. Namun Fajrun tidak juga mengembalikan uang tersebut. Dan selalu dijanjikan akan dibayar pada bulan selanjutnya.

Terus-terusan seperti itu, akhirnya Namuri melibatkan notaris Fahrul Rozi. Dan Fajrun sempat menandatangani surat pernyataan di hadapan notaris Fahrul Rozi.

Di dalam surat pernyataan itu, tertulis bahwa Fajrun telah menerima uang Rp 2,75 miliar. Serta tertulis akan mengembalikan uang pada 30 September 2017. Karena tidak terealisasi, akhirnya Namuri melaporkan ke pihak berwajib.

Saat memenuhi panggilan, pada Jumat (1/3) lalu. Fajrun mengatakan akan menghormati setiap proses hukum yang dilakukan Polresta Bandar Lampung.

“Pertama, kalau itu betul melewati proses hukum, ya saya menghormati proses hukum itu dan saya siap memberikan keterangan jika dipanggil,” ujar Fajrun.

Meski Fajtun membantah kronologis yang disampaikan oleh Namuri Yasir, Fajrun tidak bisa menyampaikan kebenaran kronologis yang ia maksud, dan akan meluruskan tudingan kepada dirinya di hadapan penyidik. (eko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed