Headline Kriminal

Pledoi, Romi Sebut Pemaksaan Penyidik Polda Lampung

Terdakwa Romi saat membacakan Pledoi, (ft.red)

Bandar Lampung,lintasberita.id- Sidang lanjutan kasus pelanggaran Undang- undang ITE terkait penghinaan Presiden Republik Indonesia ‎Ir. Joko Widodo (Jokowi) di postingan Facebook kembali di gelar di Pengadilan Kelas 1 A Tanjungkarang, Bandar Lampung, Kamis, (29/11/2018).

Sidang dengan Majelis Hakim yang di ketuai oleh Syamsudin, terdakwa Romi Erwin Saputra (22) membacakan pembelan terhadap dirinya, terkait ‎postingan yang memuat photo Presiden Jokowi yang terdapat pada grup jual beli hp Bandar Lampung, pada hari Sabtu, 21 juli 2018 pukul 20.14 wib‎.

Dalam pledoinya, Romi mengungkapkan‎ bahwa Ia merasa dipaksa oleh penyidik Polda Lampung untuk mengakui bahwa itu adalah postingannya. Namun, hingga menjalani persidangan Ia tidak akan mengakui apa yang tidak di lakukannya.

Menurutnya, setelah akun facebooknya di bajak oleh orang, Ia sudah melapor kepada kepihak kepolisian, mulai dari Polsek Panjang hingga Polda Lampung yang juga ditemani oleh ibu, adik, sanak keluarga, dan rekan kerjanya dan sudah dibuatkan video klarifikasi pada tanggal 1 Desember 2017 diruang Subdit II Krimsus Polda Lampung.

Masih dalam pembelaan, ada hal yang menjadi tanda tanya besar baginya, sejak ditahan oleh penyidik Polda Lampung dan sebelum kasus ini masuk ke meja persidangan, tim penyedik Polda Lampung mengetahui bahwa akunnya telah di bajak.

Saat itu, penyidik juga mengatakan bahwa kasus ini tidak akan ‎sampai ke persidangan, hal itu dikatakan oleh salah satu penyidik yaitu Kompol. Ketut Suryana di hadapan ibu, adik, sanak keluarga, dan rekan kerjanya.

‎”Majelis Hakim yang terhormat, sejak akun facebook saya dibajak di bulan Desember 2017 oleh seseorang, Kompol Hakim Rambe menanggapi dengan baik masalah ini, dan Ia turun langsung kelapangan, Ia tidak pernah menahan saya. Namun, ketika Kompol. Hakim Rambe dipindah tugaskan ke Lampung Timur, tim penyidik Polda Lampung  Kompol Ketut Suryana, Bringpol Andre Jaya Saputra dan Bripda Manghut Maduna, ‎justru menjadikan saya tersangka‎,” ungkapnya.

“‎Penyidik menjadikan saya tersangka dan melaporkan saya, dengan surat pelaporan atas nama pelaporan M. DANA APRIWINATA SH, No SP Han /21/VII/ RES 2.5 /2018/ Ditmskrimsus, itu juga dikatakan dengan alasan melindungi saya, mengamankan saya, dan menjadikan saya pelaku utama, dikarenakan penyidik tidak mampu mendapatkan pelaku utama,” tambahnya.

‎”Majelis Hakim yang terhormat, semua beralasan yang tidak masuk akal yang disampaikan penyidik kepada saya dan keluarga, serta rekan kerja saya. Dari alasan sambil menunggu pelakunya online, Kapolda yang diganti, dan pak DIR. Namun semua hanya trik belaka, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menimbulkan kebencian antara golongan apalagi menjadi propaganda jelang pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, secara garis besar tekhnis dan kronologinya, Majelis Hakim yang mulia bisa menilai, saya yang melaporkan saya yang dilaporkan,” timpalnya.

Menanggapi pledoi dari terdakwa, Jaksa Penuntut Umum Agus Priambodo‎ masih tetap pada tuntutan semula, dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada majelis hakim.

Sementara itu, Tarmidzi, SH selaku kuasa hukum terdakwa mengatakan bahwa, mengharapkan ‎hakim mengambil keputusan dengan seadil- adilnya.

“Dengan adanya pembelaan itu, hakim bisa melihat fakta persidangan dan menilai, tergantung keyakinan hakim seperti apa, ‎dan memberikan putusan yang adil. Saya yakin, hakimnya profesional,” ungkapnya.

Sebelumnya, terdakwa Romi di tuntut dengan hukuman pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan dan denda Rp. 1 Miliar ‎Subsider 3 bulan penjara, hal itu karena terdakwa telah melanggar pasal 45 A ayat 2 jo pasal 28 ayat 2 Undang – undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Sidang akan di lanjutkan kembali pada hari Kamis, 6 Desember 2018 dengan agenda mendengarkan putusan hakim. (red)

Berita Terkini

Add Comment

Click here to post a comment

27 − 19 =