Kriminal

Polisi dan Hakim Diminta Terbuka “Tangani” Kasus Pembunuhan Sa’ad

Tulang Bawang, Lintasberita- Sarkowi, Warga Kampung Kuala Teladas kakak dari korban pembunuhan Sa’ad bin Tuan Raden yang tewas pada, Minggu (10/9/2017) malam sekitar pukul 18.00 akibat dikeroyok oleh dua anak tirinya, mendatangi Mapolres Tulang Bawang.

Kedatangan Sarkowi, mempertanyakan status dua dari empat tersangka yang tidak ditahan setelah mendengarkan keterangan saksi dalam sidang di PN Menggala, Selasa (13/2) kemarin. “Dalam sidang kemarin (red), pengadilan hanya menghadirkan dua terdakwa, sementara tersangkanya melibatkan empat orang,” papar dia.

Dalam keterangannya, Sarkawi bin Setuan Raden kakak korban menjelaskan, saat kejadian dirinya di lokasi dan merlihat langsung peristiwa pembantaian Sa,at bin Setuan Raden, bahkan dia mengetahui siapa saja yang terlibat dalam peristiwa pembantaian tersebut.

Dikatakannya, setelah saudara Rian bin Irawan dan Putra bin Irawan melakukan pembantaian korban (Sa’at ), Irawan dan Suryadi ikut serta mengantar jemput pelaku Rian bin Irawan dan Putra Irawan ke kediaman rumah korban sekitara pukul 17.30 Wib, katanya.

Kemudian lanjut Sarkowi, kejadian pembantaian tersebut sekitar pukul 18.00 Wib. Saat itu pelaku Rian bin Irawan dan Putra Irawan melakuak aksi membacok korban dengan menggunakan sebilah parang dan sebilah balik. “Ketika korban roboh bersimbah darah kedua pelaku pembunuhan di jemput oleh Irawan dan Suryadi menggunakan mobil ke luar kampung Kuala Teladas untuk melarikan diri,” ujarnya.

Melihat kasus ini kata Sarkowi, artinya disini kuat dugaan bahwa orang tua tersangka Irawan dan pamanya Suryadi ikut serta merencanakan pembunuhan ini. Sebab, saat kejadian pembantaian korban orang tua terdakwalah yang mengatar jemput keduanya. “Karena tidak mungkin Irawan dan Suryadi tidak tau dalam perencanaan pembunuhan.

Sebab, Irawan tidak ada rumah di Kampung Kauala Teladas, melainkan rumahnya berada di Teluk Betung Bandar Lampung, lantas mengapa saat kejadian saudara Irawan ada di lokasi bila tidak ikut serta dalam pembunuhan tersebut,” terangnya.

Selain itu sambung Sarkowi, pada saat penangkapan kedua terdakwa Rian bin Irawan dan Putra Irawan di arial perkebunan tebu.

Tepatnya di KM 43 Irawan, ayah terdakwa dan Suryadi paman terdakwa ikut di amankan anggota Polsek Gedung Meneng dan di bawa ke Polres Tulang Bawang. “Jadi tidak mungkin irawan (orang tua kedua terdakwa) dan pamanya tidak terlibat. Bahkan boleh jadi otak pelakunya adalah keduanya bukan terdakwa sekarang Rian bin Irawan dan Putra Irawan, namun dua hari kemudian keduanya di lepasan pihak Polres Tuba dengan alasan yang tak jelas,” bebernya.

Sementara itu, pengakuan saksi Sumin bin Darusdi dan Usman bin Darusdi yang ikut dalam penangkapan para terdakwa di KM 43 arial komplek perkebunan tebu milik PT. ILP (Indo Lampung Perkasa) SGC, membenarkan bila penangkpan kedua terdakwa bukan saja anggota Polsek Gedung Meneng saja, akan tetapi sejumlah warga ada di lokasi penangkapan keduanya. “Ketika itu saya ikut melakukan pengejaran bersama anggota kepolisian Polsek Gedung Meneng. Di lokasi pihak Polsek Gedung Meneng mengamankan kedua terdakwa, Rian bin Irawan dan Putra bin Irawan selain itu Anggota Polsek juga mengamankan Irawan dan Suryadi. Dimana yang mengemudiakan mobil Pick-UP Daihatsu Grand Max warna putih tersebut adalah Suryadi,” ujar Sumin.

Dilain pihak, Rusli Umar ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LEDAK yang saat itu mendampingi puluahan keluarga korban meminta kepada pihak Polres Tulang Bawang agar mengsut ketelibatan Irawan dan Suryadi, dimana keduanya kuat dugaan sebagai otak pelaku pembunuhan Sa’at bin Setuan Reden. “Saya amat menyayangkan Kinerja Polres Tulang Bawang, yang tersesan setengah hati dalam menangani kasus pembunuhan (Sa’at). Padahal, sudah jelas Irawan dan Suryadi pada saat kejadian dan penangkapan keduanya ada bersama terdakwa. Tapi, pihak Polres Tuba malah melepaskan keduanya dengan alasan yang tidak jelas serta tidak menyampaikan alasannya kepada ahli waris dan keluarga korban,” papar Rusli Umar.

Selanjutnya Rusli umar meminta kepada pihak Pengadilan Negeri Menggala agar tidak main-main dalam menangani perkara pembunuhan ini.

Dirinya berharap pihak Hakim dan Jaksa meberikan sanksi atau putusan yang seadil-adailnya. “Mengingat ini peroslan menghilangkan nyawa seseorang. Dan saya dalam hal ini tidak segan-segan akan menggelar orasi atau turun kejalan, guna menerikan keadilan dalam perkara pembunuhan (Sa’at) bila mana pihak terkait terindikasi ada permainan hukum dalam artinya ada lobi-lobi antara keluarga terdakwa dengan pihak hakim atau jaksa penuntut umum,” pungkasnya. (is)

Berita Terkini

Add Comment

Click here to post a comment

59 − = 50