oleh

PPDB Berdasar Zonasi SMA N 1 Tuba Tengah Banyak Masalah

Suasana Penerimaan siswa SMA Negri 1 Tulangbawang Tengah

Lintasberita.id- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan zonasi tahun ajaran 2019/2020 dikabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) dikeluhkan sejumlah wali murid. Pasalnya, menurut sejumlah wali murid yang mendaftar di SMA Negri 1 Tulangbawang Tengah (TBT) banyak terjadi kesalahan yang sangat mencolok dalam penerapan sistem PPDB berdasarkan zonasi tersebut.

Rs (56) warga Penumangan yang merupakan salah seorang wali murid yang menilai banyak terjadi kesalahan dalam sistem PPDB berdasarkan zonasi atau jarak tempuh dari tempat tinggal calon siswa dengan sekolah yang dituju sesuai yang sudah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

“Saya harap pemerintah dapat mengevaluasi kembali sistem zonasi tersebut, soalnya banyak terjadi kesalahan. Contohnya saja, tetangga yang jaraknya hanya 300 s/d 500 meter dari rumah, namun dipengumuman PPDB tahun ajaran 2019 /2020 Provinsi Lampung bisa selisih hingga 2 sampai 5 kilo meter lebih. Dan hal itu bukan hanya terjadi pada satu atau dua orang saja,” ungkapnya saat dijumpai di SMA N 1 TBT Kamis, (20/6/2019).

Dirinya membeberkan, kesalahan tersebut diantaranya, ER jarak radius mencapai 8,6 km tidak diterima, namun AN dengan radius 9,4 km dapat diterima. Dan DR yang tetanggaan dengan ER jarak radiusnya selisih jauh yaitu 5,1 km, lalu AD radius 2,8 km, serta MS radius 6,6 km. Padahal mereka yang saya sebutkan itu tetangga satu Tiyuh (Desa) tapi jaraknya bisa selisih jauh berbeda,” paparnya.

Selain itu, kesalahan lainnya juga terjadi pada sistem penerimaan peserta didik baru yang dianggap adanya unsur permainan antara operator dengan pihak-pihak lain.

“Jika diamati jelas hal itu sangat janggal, ada yang radius 9,4 km namun diterima, banyak juga yang jaraknya lebih dekat yaitu hanya 8,6 km dan ada yang lebih dekat lagi tapi tidak diterima. Padahal faktanya jarak dari masing-masing calon siswa tersebut tidak begitu jauh karena mereka memang tetangga satu Tiyuh (Desa), mendaftar aja bersama,” cetusnya.

Untuk itu, sejumlah masyarakat meminta agar pemerintah daerah, Provinsi dan Pemerintah Pusat dapat benar-benar mengevaluasi kembali sistem PPDB berdasarkan zonasi tersebut.

“Jika semua kejanggalan itu dibiarkan atau bahkan digunakan dikhawatirkan nantinya akan timbul pemikiran adanya rasa tembang pilih dalam penetapan PPDB tersebut, yang berujung aksi protes dari sejumlah wali murid. Soalnya dari jarak radius dan penerimaannya saja sudah dianggap banyak salah,” harapnya.

Sementara saat akan dimintai keterangan terkait adanya kesalahan dalam penerapan PPDB bedasarkan zonasi tahun ajaran 2019/2020 di SMA N1 TBT, Sirdin Efendi selaku Kepala Sekolah tidak berada ditempat.

“Bapak Kepala Sekolah memang tidak masuk hari ini, kabarnya sedang Dinas Luar (DL),”ungkap salah satu guru di SMA N1 TBT. (Khoiri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed