oleh

Segera Somasi, LBH Minta PT. Pualam Tunggal Sakti Tak Lakukan Aktifitas

Lintasberita.id- Gardu Poskamling yang dianggap merupakan fasilitas umum (fasum) Perumahan, oleh warga RT 05 Perum Permata Asri, Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, kini telah rata dengan tanah.

Selaku pihak Perumahan (Developer) PT. Pualam Tunggal Sakti melakukan perobohan paksa pada hari Senin (30/3/2020) kemarin, dan menurut keterangan warga sekitar bahwa, perobohan gardu yang berdiri di lahan fasum tersebut tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu kepada warga sekitar.

Menanggapi pembongkaran Gardu Poskamling, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung melalui Divisi Ekonomi, Sosial dan Budaya, Sumaindra mengatakan, bahwa saat ini LBH sedang menunggu balasan surat yang dikirimkan ke Pemda Lampung Selatan terkait alih fungsi apakah sudah dilakukan penyerahan ke Pemda dan lainnya.

“Pihak perumahan seharusnya selama proses ini masih berjalan jangan mekakukan tindakan- tindakan aktifitas, dan saat diklarifikasi ke pihak perumahan, bahwa itu masih kewenangan pihak perumahan, namun saat ini kami bersama masyarakat masih terus melakukan pendataan lebih masif lagi terhadap proses itu,” kata Indra.

Menurut Indra terkait setifikat, bahwa sertifikat juga merupakan dokumen negara, dan sertifikat juga ada keterangan fisik terhadap batas batas tanah, dan dilihat dari sertifikat yang dimiliki warga bahwa batas tanahnya lokasi itu merupakan fasum.

“Ini menjadi titik terang, menjadi petunjuk, dan ini bisa ditelusuri apakah ini sebagai fasum atau ada perubahan dan lainnya, tapu kalau di lihat dari sertifikat itu ya fasum,” tegas Indra.

Direncanakan, lanjut Indra. LBH juga akan melakukan somasi untuk proses penyelsaian terhadap masalah tersebut, dan LBH juga meminta kepada pihak perumahan sebelum ada proses penyelsaian yang jelas, jangan melakukan aktifitas- aktifitas.

“Karena aktifitas- aktifitas yang dilakukan menyebabkan konflik dibawah,” tutup Indra.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) Karang Mas Maryono menyatakan pengakuan yang berbanding terbalik dengan warganya, bahwa sepengetahuan dirinya selama tinggal dilingkungan tersebut, bahwa lokasi yang dimaksud bukan lah lahan fasum, melainkan tanah komersil.

“Entah dari mana warga RT.05 itu mengklaim sebagai fasum, itu lahan komersil,” kata Maryono.

Meski belum melihat sertifikat milik salah satu warga yang menunjukan adanya bahwa lahan tersebut adalah fasum, ia memastikan bahwa lahan yang dimaksud bukan fasum.

“Saya memang belum lihat sertifikat itu, tapi setahu saya, saya tinggal disini tahun 2008, sedangkan perumahan itu kalau tidak salah dibangun tahun 2016-2017, lebih duluan saya kan. Sebelum saya beli rumah ini saya pernah ditunjukan site plan, itu lahan komersil, mungkin warga Rt 05 saja yang klaim itu lahan fasum,” tegasnya.

Dia juga menyatakan, bahwa di wilayahnya tersebut terdapat 13 Rt, namun hanya Rt 05 saja yang klaim itu lahan fasum, dan Rt lainnya menganggap itu lahan komersil.

“Kalau dasarnya sertifikat, sertifikat yang mana,? Sertifikat itu dari mana dasarnya.?,” kata Maryono. (Sug/Har)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed