oleh

Sidang Bisnis Besi, Penasihat Hukum: Kami Nilai Kasus Ini Perdata Bukan Pidana

lintasberita.id- Bisnis berujung kasus pidana, kali ini menjerat Muhammad Riadi Alias Supriyadi (44) warga Perumahan Villa Bukit Tirtayasa Blok E6 No. 02 Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung yang harus merasakan dinginnya kursi pesakitan Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjungkarang, Kamis (19/12/2019).

Sidang dengan Majelis Hakim yang di ketuai oleh Hendri Irawan, SH, MH., menghadirkan dua orang saksi, yakni Talen Hapis seorang anggota Polri yang masih aktif dan Heri salah satu warga sekitar yang juga di tuakan di lingkungan.

Ruang sidang sempat memanas, saat saksi Talen Hapis duduk menjadi saksi dalam kasus bisnis besi behel itu, diketahui saksi Talen Hafis juga merupakan orang yang menjalin bisnis dengan terdakwa.

Usai persidangan, Penasihat Hukum terdakwa Iskandar, SH, di dampingi Heris Kurniawan, SH. mengatakan, bahwa kliennya sudah beritikad baik telah melakukan pembayaran yakni dengan pembuktian bukti transfer, seharusnya kasus ini masuk dalam ranah perdata bukannya pidana.

“Kami tim penasihat hukum menilai, bahwa kasus ini perdata bukan pidana, karena klien kami beritikat baik dengan membayar dan menyelsaikannya, namun ada konsumennya yang belum membayar memenuhi kewajibannya (Menunggak),” kata Iskandar.

Menurutnya, dalam persidangan dirinya juga sempat mempertanyakan perjalanan bisnis antara Korban Gatot Prawito dengan kliennya, dan juga kliennya berbisnis dengan saksi Talen Hafis, bahwa memang sudah berjalan satu tahun lebih dan tidak bermasalah bahkan setoran sampai lunas.

“Berbisnis sudah setahun lebih, jadi mereka juga sudah merasakan keuntungan bisnis dengan klien kami,” timpal Iskandar.

Pihaknya juga sempat menyinggung dan mempertanyakan terkait status dari saksi Talen Hapis yang masih aktif sebagai anggota Polri dan mempunyai bisnis atau usaha yang ada di ruang lingkup kedinasannya.

“Beliau tadi kan menjadi saksi, jadi kami tanyakan itu kepada dia, dan kata dia sah sah saja anggota Polri berbisnis, asal tidak melanggar hukum dalam aturan Polri, itu kata saksi,” kata Iskandar.

Untuk diketahui, dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arie Apriasyah, SH., bahwa pada kurun waktu tanggal 10 Agustus 2018 sampai tanggal 16 Agustus 2018, terdakwa mendatangi rumah saksi Gatot Prawito sebanyak empat kali dengan tujuan melakukan pembelian besi yang di bayar secara cash tempo paling lambat 20 hari sejak barang di terima dan untuk meyakinkan saksi korban, dengan kata- kata bahwa “Barang akan dibayar lunas setelah barang diterima“ dan selanjutnya terdakwa mengajak saksi Gatot Prawito ke rumah terdakwa.

Dan setelah berada di rumah, terdakwa kembali meyakinkan saksi dengan menunjukan dan pada tanggal 15 Agustus 2018 terdakwa kembali meyakinkan saksi akan membayar DP Rp15 juta setelah barang diantar. Bahwa selanjutnya pada tanggal 16 Agustus 2018 saksi korban memenuhi permintaan pembelian besi pesanan terdakwa yaitu sebanyak 1.500 besi behel ukuran 8 inch dengan total harga sebesar Rp. Rp 57.350.000. yang diterima terdakwa,

Bahwa setelah seluruh besi diterima, ternyata terdakwa tidak membayar DP sebesar Rp. 15.000.000, seperti yang terdakwa janjikan dan terdakwa menjanjikan akan mengantarkan DP pembelian besi tersebut kerumah saksi, namun setelah ditunggu-tunggu oleh saksi ternyata terdakwa tidak mengantarkan DP Pembelian besi tersebut dan setelah didesak oleh saksi,

Selanjutnya terdakwa pada tanggal 26 Agustus 2018 membayar kepada saksi sebesar Rp. 5.350.000, dan pada tanggal 19 September 2018 terdakwa membayar kembali sebesar Rp. 5.000.000,- melalui transfer.

Bahwa selanjutnya pada akhir bulan september 2018, saksi korban selalu datang kerumah terdakwa untuk meminta pelunasan sisa pembayaran pembelian besi tersebut sesuai yang dijanjikan terdakwa, namun terdakwa selalu meminta saksi untuk bersabar dan berjanji akan melunasinya hingga pada akhirnya terdakwa membayar dengan menyerahkan 708 batang berbagai ukuran yang dihargai oleh terdakwa sebesar Rp. 27.081.000., sehingga masih ada kekurangan pembayaran sebesar Rp. 19.919.000., yang tidak dilunasi oleh terdakwa, sehingga saksi Gatot prawito mengalami kerugian sebesar Rp 19.919.000.

Bahwa perbuatan serupa juga dilakukan oleh terdakwa kepada saksi Talen Hapis, dimana terdakwa pada hari selasa tanggal 18 September 2018 sekira pukul 08.15 wib telah membeli besi behel ukuran 6 inch sebanyak 350 batang dan besi ukuran 10 inch sebanyak 500 batang dan besi ukuran 8 inch sebanyak 700 batang dengan total harga pembelian keseluruhan sebesar Rp 64.500.000, dengan pelunasan 14 hari setelah barang diterima, namun setelah barang diterima oleh terdakwa pada tanggal 20 September 2018, terdakwa hanya membayar sebesar Rp. 48.500.000, sehingga masih terdapat kekurangan pembayaran kepada saksi Talen Hapis sebesar Rp. 16.000.000.

Bahwa saksi Talen Hapis sering diminta untuk melunasi pembelian besi tersebut kepada terdakwa namun terdakwa hanya melakukan pembayaran sebesar Rp 6.000.000, yang terdakwa transfer melalui rekening kawannya an. RIRIN MULYANI pada bulan Agustus tahun 2019, sehingga atas perbuatan terdakwa tersebut saksi Talen Hapis mengalami kerugian sebesar Rp 10.000.000.

Bahwa semua besi yang terdakwa beli dari saksi Gatot Prawito dan Talen Hapis telah terdakwa jual kembali kepada orang lain dengan keuntungan sebesar Rp. 1000, sampai dengan Rp. 2000, perbatangnya.

Atas perbuatannya itu, terdakwa di dakwa dengan dua pasal yakni pertama perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 379 a KUHP, kedua Pasal 378 KUHP. (Eko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed