Kriminal

Sidang Cabul, Hakim Tolak Esepsi Oknum Dosen

Terdakwa Chandra Ertikanto (58) usai jalani sidang. (foto: esam)

Bandar Lampung, lintasberita.id- Kasus asusila yang menyeret dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) Chandra Ertikanto (58) sebagai terdakwa kembali di gelar di Pengadilan Kelas 1 A Tanjungkarang. Senin (8/10/2018).

Persidangan dengan Majelis Hakim yang di ketuai oleh Nirmala Dewita, SH,MH beragendakan putusan sela. Majelis Hakim memutuskan menolak seluruhnya esepsi yang di lakukan oleh terdakwa.

“Dengan putusan tadi Majelis Hakim meminta Jaksa untuk sidang selanjutnya menghadirkan saksi, karena esepsi yang kemarin akhirnya di lanjutkan, dan ditolak seluruhnya oleh hakim,” ungkap Jaksa Penuntut Kadek Agus Dwi Hendrawan.

Menurutnya, pihaknya sudah menyiapkan sekitar 20 orang saksi dengan di tambah 3 orang saksi ahli yang akan di hadirkan dalam persidangan selanjutnya.

“Saksi ahli yang pertama dari ahli bahasa, ahli pskologi, dan yang ketiga ahli pidana,” terangnya.

Terpisah, Aditya Tejo dari Damar Lampung mengatakan, bahwa pihak Damar tinggal melihat jalannya persidangan saja. Terkait saksi yang akan di hadirkan, Ia menjelaskan bahwa saksi yang sudah diperiksa saat masih di tangani kepolisian.

Dalam kasus ini, terdakwa Chandra terancam pasal berlapis. Mulai dari pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, hingga pasal 281 ke-2 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut, perbuatan itu berawal pada 13 November 2017 sekitar pukul 14.00 WIB saat korban disuruh oleh terdakwa untuk mencari contoh proposal milik orang lain untuk dicontoh oleh korban DS.

Akhirnya korban menemukan proposal yang akan dicontohnya, lalu tiba-tiba terdakwa mengambil proposal tersebut menggunakan tangan kanannya dan mengenai payudara korban DS.

“Terdakwa menayakan kepada korban mana proposal miliknya (korban), saat akan memberikan proposal kepada terdakwa, korban meletakkan proposal diatas pahanya. Lalu terdakwa mengambilnya sendiri saat itu tangan kanan terdakwa menyentuh payudara korban,” ungkap JPU.

Satu minggu setelahnya, terdakwa kembali melakukan perbuatanya, dimana saat itu korban DS hendak melakukan bimbingan skripsi dengan terdakwa. Ketika korban DS berada didalam ruangan terdakwa, terdakwa lalu mengunci pintu ruangan.

Ketika korban DS di dalam ruangan tersebut, terdakwa mengatakan kepada korban DS harus berjanji terhadap  terdakwa. Mendengar ucapan tersebut korban DS menayakan maksud dari ucapan tersebut.

“Korban bertanya janji apa yang dimaksud oleh terdakwa, terdakwa lalu menjawab jika korban dipegang pegang jangan marah ya,” kata Jaksa menirukan ucapan dosen.

Mendengar ucapan itu, korban tidak menuruti permintaan dosen pembimbingnya tersebut. Lantas terdakwa marah dengan membanting skripsi korban sembari menarik tangan korban dan berkata.

“Ya sudah kalau kamu seperti itu, nggak akan saya bantu, nggak lulus nggak lulus  kamu. Korban menjawab, jangan seperti itu pak. Makanya kalau dipegang pegang jangan marah,” kata jaksa menirukan percakapan keduanya.

Korban berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dosen dengan berkata “Pak, bapak ini dosen saya, sudah saya anggap sebagai bapak saya sendiri, saya pun sebagai anak bapak ” kata korban DS ditirukan Jaksa. (red)

Berita Terkini

Add Comment

Click here to post a comment

− 5 = 2