oleh

Sidang PK, Reza Hadirkan Novum Ungkap Saksi BAP Terancam

lintasberita.id- Sidang Peninjauan Kembali (PK) atas M. Reza Pahlevi terkait tindak pidana Korupsi bantuan perlengkapan siswa miskin Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, digelar di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Bandar Lampung. Rabu (2/10/2019).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim yang diketuai oleh Novian Saputra, S.H., M.Hum. itu, pihak M. Reza Pahlevi menghadirkan novum (bukti baru atau keadaan baru) yakni mantan karyawannya di PT. Manggung Polah Raya, Meldyansah Sutan Maulana dan seorang ahli Hukum Pidana sekaligus Dosen Fakultas Hukum Univesitas Indonesia (UI) Dr. Eva Achjani Zulfa, S.H. M.H.

Dalam kesaksiannya, Meldyansah Sutan Maulana mengatakan bahwa dia mengenal M. Reza Pahlevi sebagai mantan bos diperusahaan. Namun sejak tanggal 1 Desember 2016, dirinya mengundurkan diri dari perusahaan.

Saat ditanya oleh Robert selaku kuasa hukum Reza terkait kedekatan saksi dengan Azwari admin di PT. Manggung Polah Raya, saksi Meldy mengaku sangat dekat sebagai teman ngbrol -ngbrol dan selalu makan bersama saat masih bekerja.

“Kenal, bukan hanya sebagai rekan kerja saja, kita sering makan bersama, ngrokok bersama, bahkan saling curhat masalah keluarga,” ungkap Meldy.

Saksi juga tidak menampik bahwa tugas pokok Azwari, sebagai admin di Perusahaan, dan menjalankan oprasional semua kegiatan perusahaan, menjalin hubungan ke Dinas- Dinas dan ke Instansi Pemerintahan. Robert kemudian menanyakan sepengetahuan saksi Meldy terkait kasus yang menyeret Reza.

“Beberapa tahun yang lalu, tepatnya minggu Kedua di bulan Desember tahun 2016, saya secara tidak sengaja bertemu dengan Sdr. Azwari, saat di Chiken Kentaki Gelael, Sudirman Enggal, Bandar Lampung. Dia colek saya, kemudian kita makan bareng sambil ngbrol -ngbrol,” kata Meldy.

“Azwari tanya kepada saya kenapa ngundurin diri.?, saya jawab ya pingin cari kerjaan lain saja. Saya kemudian tanya gimana kondisi bos sekarang,? yang saya tau Reza (M. Reza Pahlevi) ada masalah di Kejaksaan,” jawaban Azwari yang di tirukan saksi Meldy.

Saksi juga mengatakan, bahwa saat itu dirinya tidak menyangka jika Azwari akan bercerita adanya permasalahan terkait dirinya yang juga diperiksa sebagai saksi oleh Kejaksaan.

“Dia mengatakan kepada saya, pada saat pemeriksaan di Kejaksaan, dia merasa tertekan oleh oknum Jaksa yang memeriksa dia saat itu, dia di arahkan untuk mengikuti kemauan Jaksa, untuk mengisi BAP, kata dia seperti di arahkan,” terang saksi Meldy.

“Dia bilang kepada saya, apa bila tidak mau menuruti kemauan Jaksa, dia merasa terancam, karena kalau tidak mengakui perbuatan Reza, maka dia yang akan menanggung. Dan kemudian disampaikan oleh Azwari bahws saudara Reza tidak pernah ketmu dengan Kadis Pendidikan Tauhidi,” kata Meldy.

Sementara, sebagai saksi Ahli, Dr. Eva Achjani Zulfa menyampaikan beberapa keterangan yang dipertanyakan oleh Robert dan Jaksa. Seperti halnya terkait novum yang di ajukan dengan pemeriksaan kerugian Negara dari BPKP.

“Kalau kami mengacu kepada novum kita paham novum salah satu instrumen untuk memeriksa satu perkara yang sudah inkrah, karena adanya satu bukti dan dari berbagai bentuk sesuai dengan KUHAP,” kata Eva menanggapi novum yang di ajukan.

“Mengacu pada KUHAP novum dari berbagai sumber baik dari saksi maupun bukti. Menurut saya selayaknya saksi bisa dijadikan sebagai novum karena implikasinya dalam materi perkara itu, untuk hasilnya dari keputusan hakim,” timpal Eva.

Eva juga menanggapi terkait pemeriksaan terhadap kerugian negara oleh BPKP yang kemudian hasil audit dari BPKP yang dibawa ke persidangan sesuai yang di pertanyakan Robert. “Saya bukan ahli keuangan, namun yang bisa melakukan pengawasan keuangan adalah BPK. Setelah memeriksa BPKP harus melaporkan kepada BPK. Karena BPK yang berhak menyampaikan kepada Penegak hukum, jika hanya dari BPKP maka tidak dapat dipakai untuk pembuktikan kerugian negara,” kata Eva.

Usai persidangan, sebagai Kuasa Hukum Robert mengatakan, bahwa pihaknya berkeyakinan, bahwa novum yang di ajukan dapat di terima dan klirnnya M. Reza Pahlevi bisa bebas dari hukum pidana yang menjeratnya. “Kita yakin itu bisa di terima, dan saudara M. Reza Pahlevi bisa bebas,” kata Rabert.

Sementara itu, Jaksa yang menyidangkan Maulana, S.H. mengatakan bahwa berkeyakinan novum yang diajukan tidak di terima, menurutnya keterangan yang di ajukan tidak berbobot.

Sebelumnya, upaya kasasi yang dilakukan oleh Mohamad Reza Pahlevi ditolak oleh Mahkamah Agung (MA), dan menyatakan Reza bersalah dalam pengadaan bantuan perlengkapan siswa miskin pada Dinas Pendidikan Provinsi Lampung TA 2012.

Untuk itu MA, menguatkan putusan Pengadilan sebelunya dengan mewajibkan M. Reza Pahlevi menjalani pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 200 juta subsider 6 bulan.

Selain itu, MA juga mewajibkan M. Reza Pahlevi membayar uang pengganti sebesar Rp 1.453.365.189 yang dikompenasasikan dengan uang yang telah dibayar sebesar Rp 1.108.000.000, jika tidak dapat membayar uang pengganti tersebut selama 1 bulan maka harus diganti dengan pidana penjara selama 1 tahun. (Eko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed