oleh

UPTD KPH Gunung Balak Lamban, Tipidter Polres Lampung Timur Segera Periksa Izin Usaha

Lintasberita.id – UPTD KPH Gunung Balak, Dinas Kehutanan Lampung Timur, dinilai lamban dalam menangani keberadaan usaha lapak singkong kupas di kawasan hutan lindung register 38 Gunung Balak, Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono. Lantaran hingga saat ini hasil klarifikasi terhadap pemilik usaha tersebut belum di laporkan ke Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.

Padahal, pihak KPH sendiri sudah melakukan pemanggilan dan menegur pemilik lapak agar merelokasi tempat usahanya. Namun, parahnya lagi perusahaan tak berizin yang beromset ratusan juta itu, justru di nilai pihak KPH masih dianggap sebatas usaha rumahan.

Memang benar, lapak berada di wilayah hutan lindung, tapi hanya usaha rumahan, dan tidak ada izin. Kami menyikapi dengan cara persuasif, tidak langsung minta menutup usahanya,” ujar kepala KPH Yulius, saat di hubungi melalui telpon Jum’at (29/10/2021).

Sementara menyikapi hal tersebut, Kanit Tipidter Polres Lampung Timur, Ipda Hendra Abddulrahman turun lapangan dan meninjau langsung keberadaan lapak di register 38 Gunug Balak. Ia menyatakan segera memanggil Kepala KPH Gunung Balak, pemilik usaha lapak singkong dan Kepala Desa Bandar Agung.

“Ia kami sudah pastikan lokasi lapak singkong tersebut dalam skala besar di Gunung Balak. Selanjutnya kami akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan ijin pengelolaan usaha dalam kawasan,” kata Kanit Ipda Hendra, Jum’at sore.

Dijelaskannya saat berada di lokasi lapak, ia melihat adanya aktifitas puluhan pekerja sedang mengupas singkong, aktifitas timbangan dan kuli panggul. Selain itu juga terdapat mobil bok jenis tronton dengan kapasitas angkut di atas 20 ton.

“Untuk sementara baru itu yang kami lakukan, kedepan baru masuk tahap pemeriksaan kepada tiga orang yang kami sebutkan tadi. Kami juga akan melakukan koordinasi dengan GAKUM KSDA,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumya, Kasus usaha lapak singkong milik Komang Wulan yang berdiri di tanah register 38 Gunung Balak Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono masih terus bergulir. Pasalnya, pemilik usaha seolah acuh dan enggan datang setelah di panggil hingga dua kali oleh pihak Unit Polisi Kehutanan, UPTD KPH Gunung Balak, Dinas Kehutanan Lampung Timur.

Melalui Kasi Perlindungan register 38 Gunung Balak, Miswantori saat dihubungi media ini via telpon mengatakan jika pihaknya sudah melakukan panggilan kepada yang bersangkutan (Komang Wulan, -red) namun hingga saat ini belum memenuhi panggilan tersebut.

“Komang sudah dua kali dipanggil agar menghadap ke kantor Polhut, tapi tidak menghiraukan panggilan kami. Jika panggilan terakhir masih tidak menghadap, terpaksa kami akan merelokasi setelah itu akan kami lanjutkan ke Provinsi, karna kami bekerja sesuai dengan tupuksi kami,” tegas Miswantori. Selasa (12/10/2021).

Dieritakan sebelumnya, diduga belum melengkapi izin, usaha milik Komang yang berdiri di tanah register 38 Gunung Balak Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Lampung Timur juga menyalahi protokol kesehatan (Prokes) di tengah pandemi covid-19.

Menjalankan usaha atau bisnis dengan modal mencapai Rp 300 juta ke atas harus menggunakan surat izin dari lingkungan setempat, bahkan izin sampai ke Kabupaten. Apalagi diduga usaha yang dimaksud tersebut berdiri di atas kawan tanah register.

Selain itu, banyak pekerja berkerumun tampa menerapkan prokes dengan jumlah pekerja melebihi kapasitas. Selain itu juga usaha tersebut diduga tampa rekomendasi dari Kecamatan ataupun dari Kabupaten, apa lagi dari Kepolisian Kehutanan (Polhut) setempat.

Saat di kompirmasi melalui via telpon, Miswantori selaku Kepala KPHL Gunung Balak menyangkan jika usaha tersebut benar berdiri di atas tanah kawan register 38 Gunung Balak.

“Kenapa tidak ada yang memberi kabar sebelum nya, seharusnya mereka menghargai kenerja kami. Saya tidak tahu berdirinya usaha itu bang, tapi apabila memang di kawasan register 38, mereka salah jalan, lagi pula saya tidak pernah mengizinkan apalagi mengeluarkan surat izin,” jelas Miswantori. Rabu (29/9/2021).

Lain halnya dengan penjelasan Kepala Desa setempat, Kamidi saat di komfirmasi melalui via terpon mengaku tahu adanya usaha tersebut.

“Saya tahu kalau tempat usaha itu, saya juga sudah kasih izin, namun untuk prokesnya saya sudah ngomong sama pamong setempat agar bisa mematuhinya dan menjaga jarak,” jelas Kamidi.

Sementara itu, Komang pemilik usaha saat akan di komfirmasi berusaha bersembunyi di dalam rumahnya dan enggan bertemu dengan awak media. Namun beberapa saat perempuan yang mengaku sang istri bernama Ida Ayu keluar dari rumah dan bertanya kepada awak media.

“Ada apa mas, cukup dengan saya aja, nanti saya sampaikan dengan bapaknya, sebab bapaknya lagi ke kebun,” kata dia.

Ida Ayu mengatakan, terkait izin lingkungan sudah ada, untuk izin dari Kecamatan masih dalam proses.

“Maaf pak jika terkait tanah register saya enggak paham karna saya disini cuma bantu suami saya aja pak Komang, kalau lainnya no coment,” kata dia. (Muntiri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed